Disuatu siang, aku menemuimu.
Tak tergambar jelas dalam pikiranku.
Mulai hari itu,
Semua telah mengarahkanku padamu.
Aku tak merasa kalau kau kuperlukan,
Keberadaanmu sering kuhiraukan,
Tak peduli apapun yang kau lakukan.
Namun, hari selalu berubah menjadi lebih rumit.
Bukan karena kehadiranmu menggangguku,
Tapi segala sesuatu yang sulit kumengerti,
Mengapa ada kamu untuk aku disini.
Katamu, takdir sudah ada pengaturnya.
Lantas, apakah kau takdirku?
Dan kau berkata kembali,
Bahwa aku adalah orang yang sedang kau perjuangkan.
Lalu,
Aku tetap sendiri dengan segala keangkuhanku,
Dan kau berjuang dengan keteguhanmu,
Tuk menjadikanku luluh atas usahamu.
Entah keberapa kali aku memikirkan ini.
Dengan perasaan yang selalu menentang.
Bahwa kau bukan ada untuk takdirku.
Bukankah segala upaya selalu ada akhir?
Dan suatu saat nanti kau akan mengakhirinya.
Mengakhiri segala upaya dalam memperjuangkan kita.
Namun, aku terlanjur jatuh.
Dalam lubang yang kesekian puluh.
Untuk menepis segala ragu.
Pada semua usahamu.
Aku tau, akan ada waktu dimana kau berhenti.
Untuk membuka pintu hati.
Yang sebenarnya telah kau masuki.
Meski begitu,
Aku tetap disini, melihatmu.
Dan berharap kau benar menjadi takdirku
Tanpa perlu aku meragu.
-IN-
-IN-