Sabtu, 08 Maret 2014

Perubahan

Tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan.
Semua akan berubah. 
Semua hal pasti berubah. 
Dan semuanya bisa berubah.

Semua berubah seiring jalannya waktu, waktu yang tidak akan pernah bisa kembali walau hanya sedetik. Tidak mungkin seseorang selalu berada dalam kondisi bahagia. Ia pasti akan merasakan juga apa itu kesedihan karena semuanya berubah. Bahkan, seseorang yang terpuruk pun dapat menjadi yang terbaik karena adanya suatu perubahan. 

Begitu pun kamu....
Disaat kita dipertemukan dan kita bahagia, kita menikmatinya. Disaat banyak orang membuka payung untuk melindunginya dari hujan. Aku dan kamu membiarkan hujan itu menyentuh dan membasahi tubuh kita. Disaat banyak orang yang lebih percaya untuk melakukan sesuatu sendirian. Aku dan kamu lebih memilih melakukan semua hal bersama-sama. Disaat banyak orang meminta bantuan karena kesulitan. Aku dan kamu saling memahami keadaan dimana aku membutuhkan bantuan dan juga sebaliknya. Disaat banyak orang beranggapan kalau waktu terlalu lama berjalan. Aku dan kamu beranggapan kalau waktu terlalu cepat memisahkan pertemuan kita setiap harinya. 

Yaaaaaa, semua hal menjadi bahagia ketika aku dan kamu bersama. Namun, benar jika semua hal pasti berubah. Kamu pun mengalami perubahan. 
Dulu kamu tersenyum ketika aku datang dihadapanmu
Dulu kamu tertawa ketika aku melakukan hal bodoh
Dulu kamu khawatir ketika aku terluka
Dulu kamu heran ketika aku berbeda
Dulu kamu senang ketika aku bersamamu
Dan kenyataan yang terjadi sekarang adalah....
Kamu menganggap aku tidak lagi ada, 
kamu menganggap aku bukan lagi siapa-siapa, 
kamu menganggap kalau senyummu tidak lagi untukku setiap aku lewat dihadapanmu,
kamu menganggap kalau sekarang kita hanya orang asing yang tidak pernah kau temui sebelumnya.

Aku terpukul karena sikapmu, aku bertanya-tanya apa yang membuatmu berubah. Apakah ini sudah waktunya perubahan? Atau ini adalah salah satu pilihanmu? Atau mungkin ada kesalahan yang membuatmu memilih menjauhiku?
Yang jelas, kamu berubah!
Tapi aku yakin cepat atau lambat aku juga akan berubah. Aku yakin suatu saat perhatianmu tak akan lagi kuharapkan. Aku yakin suatu saat senyummu tak akan lagi berharga dimataku. Aku yakin suatu saat kedatanganmu tak akan lagi ku butuhkan. Dan aku yakin suatu saat perasaanku tak akan lagi untuk dirimu.

Sekarang, aku menunggu perubahan itu terjadi. Perubahan yang membuat aku lebih bahagia daripada terus mengharapkan kamu kembali. Perubahan dimana aku tidak membutuhkanmu dan aku menunggu perubahan yang menggantikan kamu untuk membuat cerita baru.

Mengaguminya....

Entah berapa lama rasa ini telah aku simpan. Entah sakit atau bahagia yang harus aku rasakan. Aku bahagia ketika sedang memikirkan tingkahnya, namun aku juga merasakan sakit ketika aku dihadapkan oleh kenyataan. Jika aku bercerita kepada orang lain, mereka tak akan pernah mengerti, maka dari itu aku lebih memilih menyimpannya sendiri. Karena bagaimanapun aku berbahasa, mereka tetap tak memikirkannya.
Mengagumi seseorang memang indah. Tetapi jika tidak ada satu orang pun yang tahu akan perasaan ini, rasanya cukup menyesakkan. Apalagi ketika aku tahu bahwa orang yang aku kagumi sejak lama, telah mengagumi orang lain. Mungkin saja, jika orang lain mengetahui perasaanku ini, mereka tidak akan segan untuk melontarkan beribu kata yang menusuk hatiku. Dan aku yakin, mereka tidak akan lupa untuk melontarkan kata “bodoh” untuk diriku. Bodoh? Apakah aku bodoh? Mungkin saja itu benar. Terkadang aku merasa diriku sangat bodoh ketika aku tidak mampu menghapus perasaanku ini padanya. Aku lemah. Aku tidak punya cara yang ampuh agar aku bisa segera menghapusnya dari hati dan pikiranku.
Yang lebih bodoh lagi, keyakinanku untuk mendapatkan hatinya pun sangat besar. Aku merasa kesempatan itu akan datang disaat aku sabar untuk menunggunya. Padahal menunggu sesuatu tanpa satu usaha yang dimulai, tidak akan mendapatkan jawaban apapun. Sama halnya seperti membungkus hadiah dengan sangat menarik namun tidak memberikannya. Kita tak akan tahu apakah hadiah itu diterimanya dengan baik atau tidak.
Aku pun heran mengapa aku bertahan dengan keadaan yang seperti ini. Namun, aku memang bahagia ketika dia memanggil namaku dari kejauhan, suaranya yang khas membuat aku mengetahui dengan cepat jika dia memanggilku. Aku bahagia ketika dia melambaikan tangannya saat dia ingin pergi lebih dahulu. Aku bahagia ketika melihat namanya muncul dalam pesan singkatku. Aku bahagia ketika dia membutuhkanku.
Aku memang sudah lama mengenalnya. Kita cukup mengenal satu sama lain. Hanya saja, satu hal yang dia tak akan pernah tahu bahwa aku mengaguminya, aku menyayanginya lebih dari segala hal. Aku tidak akan pernah mau membahas tentang perasaanku jika dia menanyakannya. Karena apa? Karena dialah orangnya, dialah yang menjadi pemeran utamanya. Aku belum siap dengan hal yang akan terjadi kalau saja dia mengetahui perasaanku. Karena menurutku, dia tidak mempunyai perasaan yang sama denganku. Dia mengagumi yang lain. Dia memiliki yang spesial. Jadi aku yakinkan saja pada diriku sendiri, seandainya dia mengetahuinya. Kita pasti akan berjarak, dia pasti tidak akan menyangka, dan dia akan menjauhiku. Karena itulah aku memendamnya, sendiri.
Terkadang aku lelah. Aku ingin mengakhirinya. Aku ingin menghapusnya dengan hal apapun yang aku bisa. Namun ketika aku mencobanya, aku selalu teringat seberapa lama aku menunggunya. Aku tidak mau semua berujung sia-sia. Aku masih ingin menunggunya sebentar lagi. Dan walaupun suatu saat semua ini akan berujung sia-sia juga. Aku harus menerimanya. Karena ini pilihanku. Ini resiko dan konsekuensinya ketika aku hanya memilih diam saat aku mengaguminya.