Entah berapa lama rasa ini telah aku simpan. Entah sakit
atau bahagia yang harus aku rasakan. Aku bahagia ketika sedang memikirkan
tingkahnya, namun aku juga merasakan sakit ketika aku dihadapkan oleh
kenyataan. Jika aku bercerita kepada orang lain, mereka tak akan pernah
mengerti, maka dari itu aku lebih memilih menyimpannya sendiri. Karena
bagaimanapun aku berbahasa, mereka tetap tak memikirkannya.
Mengagumi seseorang memang indah. Tetapi jika tidak ada satu
orang pun yang tahu akan perasaan ini, rasanya cukup menyesakkan. Apalagi
ketika aku tahu bahwa orang yang aku kagumi sejak lama, telah mengagumi orang
lain. Mungkin saja, jika orang lain mengetahui perasaanku ini, mereka tidak
akan segan untuk melontarkan beribu kata yang menusuk hatiku. Dan aku yakin, mereka
tidak akan lupa untuk melontarkan kata “bodoh” untuk diriku. Bodoh? Apakah aku
bodoh? Mungkin saja itu benar. Terkadang aku merasa diriku sangat bodoh ketika
aku tidak mampu menghapus perasaanku ini padanya. Aku lemah. Aku tidak
punya cara yang ampuh agar aku bisa segera menghapusnya dari hati dan pikiranku.
Yang lebih bodoh lagi, keyakinanku untuk mendapatkan hatinya
pun sangat besar. Aku merasa kesempatan itu akan datang disaat aku sabar untuk
menunggunya. Padahal menunggu sesuatu tanpa satu usaha yang dimulai, tidak akan
mendapatkan jawaban apapun. Sama halnya seperti membungkus hadiah dengan sangat
menarik namun tidak memberikannya. Kita tak akan tahu apakah hadiah itu
diterimanya dengan baik atau tidak.
Aku pun heran mengapa aku bertahan dengan keadaan yang
seperti ini. Namun, aku memang bahagia ketika dia memanggil namaku dari
kejauhan, suaranya yang khas membuat aku mengetahui dengan cepat jika dia
memanggilku. Aku bahagia ketika dia melambaikan tangannya saat dia ingin pergi
lebih dahulu. Aku bahagia ketika melihat namanya muncul dalam pesan singkatku. Aku
bahagia ketika dia membutuhkanku.
Aku memang sudah lama mengenalnya. Kita cukup mengenal satu
sama lain. Hanya saja, satu hal yang dia tak akan pernah tahu bahwa aku
mengaguminya, aku menyayanginya lebih dari segala hal. Aku tidak akan pernah
mau membahas tentang perasaanku jika dia menanyakannya. Karena apa? Karena dialah
orangnya, dialah yang menjadi pemeran utamanya. Aku belum siap dengan hal yang
akan terjadi kalau saja dia mengetahui perasaanku. Karena menurutku, dia tidak
mempunyai perasaan yang sama denganku. Dia mengagumi yang lain. Dia memiliki
yang spesial. Jadi aku yakinkan saja pada diriku sendiri, seandainya dia
mengetahuinya. Kita pasti akan berjarak, dia pasti tidak akan menyangka, dan dia
akan menjauhiku. Karena itulah aku memendamnya, sendiri.
Terkadang aku lelah. Aku ingin mengakhirinya. Aku ingin
menghapusnya dengan hal apapun yang aku bisa. Namun ketika aku mencobanya, aku
selalu teringat seberapa lama aku menunggunya. Aku tidak mau semua berujung
sia-sia. Aku masih ingin menunggunya sebentar lagi. Dan walaupun suatu saat
semua ini akan berujung sia-sia juga. Aku harus menerimanya. Karena ini
pilihanku. Ini resiko dan konsekuensinya ketika aku hanya memilih diam saat aku mengaguminya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar