Kamis, 17 November 2016

Ketertinggalan

Adalah aku yang menyia-nyiakan indahnya pelangi setelah hujan. Aku tertinggal.

Sebelumnya, aku hanyalah seorang anak yang riang dengan kesehariannya. Bermain bersama teman-teman sebaya, hanya ada kasih dan canda tawa. Melangkah menuju tujuan yang telah direncanakan.

Kehadirannya seperti daun yang terbawa angin. Menghampiriku secara tak sengaja. Menceritakan dunia dari sudut pandang yang berbeda. Seolah-olah aku tidak tau apa-apa. Bukan sering, tapi setiap hari selama beberapa pekan dia selalu menghubungiku dengan kesenangan yang aku pun tidak tau apa artinya. Bukan tidak perasa, hanya saja aku tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

Setelah disadari oleh keadaan bahwa hubungan ini semakin dekat.  Aku tetap tidak peduli. Aku merasa akan ada waktunya dia pergi. Seperti mereka yang lain, sehingga aku tidak pernah yakin dengan siapapun yang mencoba membuka hati. Rasanya, lebih baik jika aku sendiri.

Saat ini, waktu telah menjawab keraguanku, bahwa dia memang tak selamanya berada disini. Aku tidak menyalahkan dia yang telah berubah, karena yang abadi hanyalah perubahan. Namun, aku menyayangkan ketika dia berubah menjadi orang lain yang tak lagi sama bagiku. Disaat hatiku menyadari bahwa selama ini aku telah menyukai semua yang ada dalam dirinya.


Sebelumnya, aku akan baik-baik saja jika sendiri. Tetapi sekarang, aku butuh waktu untuk menetralkan kembali perasaan ini. Aku tertinggal dalam menyadari kenyataan bahwa aku menyukainya, disaat dia belum benar-benar pergi.