Adalah aku yang menyia-nyiakan indahnya pelangi setelah
hujan. Aku tertinggal.
Sebelumnya, aku hanyalah seorang anak yang riang dengan
kesehariannya. Bermain bersama teman-teman sebaya, hanya ada kasih dan canda
tawa. Melangkah menuju tujuan yang telah direncanakan.
Kehadirannya seperti daun yang terbawa angin. Menghampiriku
secara tak sengaja. Menceritakan dunia dari sudut pandang yang berbeda.
Seolah-olah aku tidak tau apa-apa. Bukan sering, tapi setiap hari selama
beberapa pekan dia selalu menghubungiku dengan kesenangan yang aku pun tidak
tau apa artinya. Bukan tidak perasa, hanya saja aku tidak memiliki kepercayaan
diri yang tinggi.
Setelah disadari oleh keadaan bahwa hubungan ini semakin
dekat. Aku tetap tidak peduli. Aku
merasa akan ada waktunya dia pergi. Seperti mereka yang lain, sehingga aku
tidak pernah yakin dengan siapapun yang mencoba membuka hati. Rasanya, lebih
baik jika aku sendiri.
Saat ini, waktu telah menjawab keraguanku, bahwa dia memang
tak selamanya berada disini. Aku tidak menyalahkan dia yang telah berubah,
karena yang abadi hanyalah perubahan. Namun, aku menyayangkan ketika dia
berubah menjadi orang lain yang tak lagi sama bagiku. Disaat hatiku menyadari
bahwa selama ini aku telah menyukai semua yang ada dalam dirinya.
Sebelumnya, aku akan baik-baik saja jika sendiri. Tetapi
sekarang, aku butuh waktu untuk menetralkan kembali perasaan ini. Aku
tertinggal dalam menyadari kenyataan bahwa aku menyukainya, disaat dia belum
benar-benar pergi.